WhatsApp Icon

Berita Terkini

3 Mundur, 1 Tumbang! Heboh dan Haru Khitanan Massal di Kantor Kecamatan Senduro
3 Mundur, 1 Tumbang! Heboh dan Haru Khitanan Massal di Kantor Kecamatan Senduro
Riuh rendah suara anak-anak mewarnai Aula Kantor Kecamatan Senduro. Ada yang menatap langit-langit dengan tegang, ada yang menggenggam erat tangan ibunya, dan tak sedikit pula yang sudah sesenggukan bahkan sebelum jarum suntik menyentuh kulit. Hari itu, BAZNAS Kabupaten Lumajang menggelar agenda khitanan massal pamungkas mereka. Namun, siapa sangka, magnet perhatian justru bukan datang dari para peserta, melainkan dari seorang kakak perempuan yang setianya luar biasa. Ketika Nyali Ambyar Sebelum 'Perang' Khitanan massal selalu punya cerita unik tersendiri. Dari 20 anak yang semula terdaftar dalam data panitia, atmosfer ketegangan di lokasi rupanya sukses menciutkan nyali sebagian peserta. Alhasil, tiga anak memilih "mundur teratur" alias batal dikhitan karena didera rasa takut yang amat sangat. "Ada yang menangis, ada yang tenang. Namanya juga anak-anak," ujar dr. Mala, Kepala Puskesmas Senduro yang mengawal langsung jalannya prosesi medis sejak awal. Menurut dr. Mala, durasi khitan tiap anak memang tidak bisa disamaratakan. Semua bergantung pada tingkat ketenangan si bocah. "Kalau tidak rewel, prosesnya bisa sangat cepat," imbuhnya sembari tersenyum. Pingsan Demi Sang Adik Di tengah riuhnya jerit tangis dan tawa di dalam ruangan, sebuah insiden mengejutkan sekaligus menggelitik terjadi. Hafiza, seorang remaja putri berusia 17 tahun asal Dusun Gempol, Desa Pandansari, tiba-tiba ambruk. Siang itu, Hafiza berniat menjadi kakak yang suportif. Ia berdiri tegap di samping adiknya, Ahmad Maulana (6), yang sedang bersiap dikhitan. Namun, begitu prosesi medis dimulai, wajah Hafiza mendadak pias. Tubuhnya lemas, dan dalam hitungan detik, ia langsung roboh ke lantai. "Mungkin dia terlalu sayang dan gak tega melihat adiknya disunat. Tiba-tiba saja tubuhnya lemas lalu pingsan," kenang dr. Mala menceritakan momen dramatis tersebut. Sontak saja, perhatian tim medis dan pengunjung yang awalnya tertuju pada anak-anak yang dikhitan, langsung terpecah. Gadis remaja itu segera digotong oleh petugas menuju kursi ruang tamu. Berkat kesigapan tim medis yang memberikan pertolongan pertama berupa pijatan di tangan dan kaki, Hafiza akhirnya siuman beberapa menit kemudian, tersenyum malu mendapati dirinya justru menjadi pusat perhatian. Dua Jam yang Sukses dan Lancar Meski sempat diwarnai drama pingsan dan mundurnya beberapa peserta, aksi sosial yang digawangi BAZNAS ini terbilang sangat sukses. Proses khitan bagi 17 anak tersisa terbilang kilat, hanya memakan waktu sekitar dua jam saja—dimulai pukul 08.00 WIB dan rampung tepat pukul 10.00 WIB. Kecamatan Senduro sendiri menjadi destinasi penutup dari rangkaian panjang program khitanan massal BAZNAS di 10 Kecamatan diantaranya Sumbersuko, Pasirian, Candipuro, Pronojiwo, Tempursari, Gucialit, Padang, Randuagung dan Kedungjajang. "Selama dua hari ini kami bergantian memantau pelaksanaan khitan di tiap kecamatan dan puskesmas. Hari ini adalah hari terakhir. Dan Alhamdulillah, semua berjalan lancar," tutur Imron Baidowi, Amil BAZNAS Lumajang dengan nada lega. Khitanan massal di lereng Senduro hari itu mungkin telah usai, namun kisah tentang tiga anak yang mundur karena takut, serta seorang kakak yang tumbang karena cinta, akan terus menjadi buah bibir yang menghangatkan hati masyarakat Pandansari.
27/06/2026 | Lukman Hakim
Kisah Puluhan Pelaku Usaha Mikro Siap Menjadi UPZ
Kisah Puluhan Pelaku Usaha Mikro Siap Menjadi UPZ
Suasana hangat menyelimuti Teras Cafe Nusantara di kawasan Jalan Lintas Timur (JLT) Lumajang, Selasa (22/6/2026). Sore itu, kepulan asap kopi berpadu dengan obrolan penuh semangat dari puluhan pelaku usaha ekonomi mikro. Mereka yang sehari-hari bergelut dengan peluh di jalanan—mulai dari penjual kopi gendong yang biasa mangkal di seputaran Alun-Alun, pedagang di Jalan Abu Bakar, kawasan sirip Imam Suja'i dan Sultan Agung, hingga para penjual mainan anak-anak—berkumpul dengan satu tekad: naik kelas dalam urusan berbagi. Di bawah bendera Paguyuban UMKM Teras Nusantara, sekitar 40 pelaku usaha mikro ini sengaja mengundang pimpinan BAZNAS Kabupaten Lumajang. Agendanya bukan untuk meminta bantuan modal, melainkan sebaliknya: mereka ingin bersosialisasi dan membentuk Unit Pengumpul Zakat (UPZ) secara resmi. sebuah langkah nyata untuk mengubah posisi, dari penerima manfaat menjadi pemberi keberkahan. "Kami sadar, bila sesuatu dilakukan secara bergotong royong, semuanya akan berjalan dengan baik," ujar Guntur, Koordinator Paguyuban UMKM Teras Nusantara dengan nada optimis. Sinergi Tanpa Ribet Keputusan para pedagang kecil ini untuk bergotong-royong lewat jalur Zakat, Infaq, dan Sedekah (ZIS) bukanlah tanpa alasan. Guntur kemudian berkisah tentang pengalaman pribadinya yang menyentuh hati. Suatu ketika, ia dihadapkan pada kesulitan saat mencoba menolong seorang warga yang membutuhkan biaya pengobatan darurat. Dalam kondisi buntu, ia mencoba "sambat" (mengadu) ke BAZNAS Lumajang. "Waktu itu saya menolong orang berobat. Saya langsung bersinergi dengan BAZNAS, dan ternyata prosesnya sama sekali tidak ribet. Langsung dibantu," kenang Guntur singkat namun sarat emosi. Pengalaman nyata itulah yang menghapus keraguan di hati para anggota paguyuban. Ketika BAZNAS menyarankan pembentukan UPZ sebagai perpanjangan tangan dalam menghimpun dana sosial keagamaan, para pelaku usaha mikro ini langsung menyambutnya dengan tangan terbuka. "Kami sangat siap untuk bersedekah atau berinfaq dengan menyisihkan sebagian keuntungan hasil berdagang kami," tegas Guntur. Legalitas untuk Usaha Kecil Langkah progresif dari para pedagang kecil ini mendapat apresiasi tinggi dari BAZNAS Lumajang. Wakil Ketua I Bidang Pengumpulan BAZNAS Lumajang, Lukman Hakim, SE., menjelaskan bahwa pembentukan UPZ di tingkat UMKM merupakan strategi penting dalam optimalisasi pengumpulan dana ZIS. Lebih dari itu, langkah ini memberikan payung hukum bagi gerakan sosial di akar rumput. "Pembentukan UPZ untuk usaha kecil ini bertujuan membantu para pelaku usaha agar bisa mengelola dana zakat, infak, dan sedekah mereka secara legal di bawah naungan resmi BAZNAS," papar pria yang akrab disapa Lukman ini. Namun, untuk mengesahkan gerakan ini, ada beberapa syarat administratif yang harus dipenuhi oleh Paguyuban Teras Nusantara. Mulai dari mengajukan surat permohonan resmi, menyusun struktur kepengurusan (yang terdiri dari Penasihat, Ketua, Sekretaris, dan Bendahara), hingga mencantumkan estimasi skala potensi ZIS serta jumlah anggota. "Jika semua syarat itu sudah terkonfirmasi dan valid, maka SK UPZ akan segera kami terbitkan," tambahnya. Magnet Akademis Gerakan unik di mana para pedagang kecil berinisiatif mendirikan lembaga filantropi ini ternyata menarik perhatian dunia akademis. Siang itu, selain dihadiri oleh tiga pimpinan BAZNAS Lumajang, acara sosialisasi juga dihadiri oleh dua orang utusan dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Widya Gama Lumajang. Kehadiran para akademisi ini bukan tanpa tujuan. Mereka datang untuk mengamati langsung sebuah fenomena sosial-ekonomi yang menarik: bagaimana sebuah lembaga besar seperti BAZNAS mampu membangun sinergi yang begitu cair dan menyentuh langsung denyut nadi perekonomian masyarakat mikro. Dari secangkir kopi gendong dan mainan anak-anak di sudut Alun-Alun, para pelaku usaha mikro di Lumajang ini sedang menulis cerita baru. Mereka membuktikan bahwa kemiskinan atau keterbatasan modal bukanlah penghalang untuk menjadi pahlawan bagi sesama. Melalui UPZ Teras Nusantara, mereka siap membuktikan bahwa tangan di atas, selamanya jauh lebih baik.
22/06/2026 | Lukman Hakim
Antusias Warga Ikuti Skrining Telinga, Wakil Bupati Jadi Sasaran Selfi
Antusias Warga Ikuti Skrining Telinga, Wakil Bupati Jadi Sasaran Selfi
Kegiatan bakti sosial skrining dan bersih-bersih telinga yang digelar BAZNAS Lumajang bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung (PERHATI) dan Himpunan Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (PGPKT) Komda Lumajang di kantor BAZNAS Lumajang Jl. Slamet Riyadi No. 42A Gg. H. Atok, Sabtu 20/6/2026, berlangsung meriah, dari ratusan peserta yang mendaftar secara online, masih terdapat warga yang mendaftar secara dadakan. Antusias warga ini terlihat saat mereka tidak ingin beranjak untuk mengikuti seluruh rangkain proses acara, mulai dari edukasi soal perawatan telinga, bersih - bersih telinga dan skrining pendengaran. "Kami tidak mau beranjak, acaranya asyik dan menyenangkan," kata Fatoni salah satu peserta. Sisi lain, kehadiran Wakil Bupati Lumajang, Yudha Aji Kusuma menjadi daya tarik sendiri bagi peserta. Kehadiran Wabub bukan hanya sekedar simbul perhatian pemerintah, tetapi tidak sedikit peserta yang mengajaknya Selfi. "Pak Wabub orangnya cool, sopan dan ganteng," terang Ida salah satu peserta wanita yang gak sungkan mengajak Wabub Yudha untuk berselfi. Sekedar diketahui, Wabub Yudha Aji Kusuma hadir sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam mendukung program BAZNAS Lumajang terkait kepedulian terhadap kesehatan masyarakat Lumajang. "Sebenarnya Bupati juga mau hadir, tetapi beliau ada zoom dengan kementerian. Acaranya juga mendadak," terang Wabub. Wabub Yudha hadir di acara bersih bersih telinga ini menggunakan motor vespa, didampingi dengan beberapa ajudan yang juga menggunakan motor. Ditanya kenapa pakek motor vespa sendiri beliau menjawab" Saat ini Lumajang sedang efisiensi anggaran, Pejabat harus memberikan contoh," tegasnya Sementara itu, Ketua BAZNAS Lumajang, Drs. H. M. Nur Sjahid M.A menyampaikan bahwa acara ini terselenggara dan berjalan dengan baik berkat dukungan seluruh tim panitia yang telah mempersiapkan acara."Saya bangga acaranya berjalan lancar dan baik," pungkasnya.
20/06/2026 | Lukman Hakim