Terkatung-katung di Jalur Rantau: Kisah Tiga Pemuda Jabar yang Dibantu BAZNAS Lumajang
19/05/2026 | Penulis: Lukman Hakim
Lumajang Peduli
Niat hati merajut asa di Pulau Dewata, apa daya nasib justru membawa duka di tanah Jawa. Itulah yang dialami oleh Trisno (38) asal Bogor, serta dua rekannya, Somad (39) dan Sarjono (39) asal Bandung. Alih-alih mendapatkan pekerjaan impian, ketiga pemuda ini justru terlantar tanpa sisa harta di wilayah Kabupaten Lumajang.
Janji Manis yang Berujung Pahit
Kisah ini bermula dari janji manis seseorang yang menawarkan pekerjaan sebagai penjaga kebun di Bali. Tergiur dengan prospek tersebut, mereka pun berangkat membawa modal seadanya. Namun, perjalanan itu berubah menjadi mimpi buruk saat mereka tiba di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.
"Belum sempat menyeberang ke Bali, kami justru ditinggal begitu saja," keluh Trisno saat ditemui di kantor BAZNAS Lumajang, Selasa (19/5/2026).
Tak hanya ditinggal, mereka juga mengaku diperas selama perjalanan dengan dalih ongkos kendaraan yang tidak masuk akal. Trisno sendiri harus merogoh kocek hingga Rp500 ribu. Akibatnya, uang saku yang seharusnya menjadi bekal awal di Bali ludes tak bersisa.
Lima Hari Berteman Masjid
Tanpa uang sepeser pun, ketiga pria ini terpaksa berjalan dan menumpang dari satu masjid ke masjid lainnya untuk sekadar beristirahat. Selama lima hari di Lumajang, masjid menjadi satu-satunya tempat berlindung mereka.
Titik terang muncul saat seorang Takmir masjid di Lumajang menyarankan mereka untuk meminta bantuan ke Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Lumajang.
"Alhamdulillah, pihak BAZNAS menyambut kami dengan baik. Kami sangat berterima kasih karena akhirnya bisa pulang ke Jawa Barat," ungkap Trisno penuh syukur.
Penyaluran yang Selektif dan Terukur
Menanggapi laporan tersebut, BAZNAS Lumajang bergerak cepat memberikan bantuan berupa ongkos kepulangan. Namun, pihak BAZNAS menegaskan bahwa prosedur tetap dijalankan secara ketat guna menghindari penyalahgunaan bantuan.
Imron Baidowi, salah satu staf BAZNAS Lumajang, menjelaskan bahwa bantuan diberikan setelah para mustahik (penerima bantuan) melampirkan surat keterangan dari kepolisian setempat.
"Kami harus tetap hati-hati karena sering terjadi modus serupa. Apalagi mereka bukan warga asli Lumajang, jadi verifikasi dari pihak berwajib sangat penting sebagai dasar penyaluran bantuan," terang Imron.
Kini, Trisno dan kawan-kawan bisa bernapas lega. Meski pulang dengan tangan hampa, setidaknya mereka bisa kembali ke pelukan keluarga di Jawa Barat berkat kepedulian para muzakki melalui BAZNAS Lumajang.
Berita Lainnya
Gerakan “Lumajang Bersedekah” Hadirkan Kepedulian hingga Desa Terpencil
Perkuat Ekonomi Usaha Mikro, BAZNAS Resmikan UPZ Desa di Kecamatan Sukodono
BAZNAS Lumajang, Gagas Gerakan Lumajang Bersedekah Demi Keberlangsungan Kesejahteraan Masyarakat
Bantu Solusi Kekeringan, BAZNAS Lumajang Distribusikan Air Bersih ke Tempat Ibadah dan Lembaga Sosial di 2 Kecamatan
Respons Cepat Kekeringan di Jatim, 1,2 Juta Liter Air Bersih BAZNAS Mulai Mengalir
Sinergi Kuatkan Pengelolaan Zakat, Pimpinan BAZNAS Lumajang Audiensi dengan Kapolres Baru
BAZNAS Lumajang Salurkan Beasiswa, Bantuan UMKM, Renovasi Rumah, dan Sepatu Sekolah di Yosowilangun
Aplikasi HalloBAZ Hadirkan Kemudahan di BAZNAS Se Jawa Timur
Bukan Sekadar Audit Rutin: Upaya SAI Memperketat Tata Kelola dan Pentasyarufan BAZNAS
Mengetuk Pintu Langit, Menggerakkan Ekonomi Rakyat di Lumajang
Berharap Sinergi Antar-BAZNAS Kabupaten dan Provinsi
Pertama Di Lumajang, Disnaker Latih Warga Disabilitas Siap Kerja
Marbot dan Muazin se-Jatim Bakal Dapat Jaminan Sosial, BAZNAS Siapkan Kolaborasi dengan DMI dan BPJS
Senyum Kemerdekaan: 8 Siswa Jatiroto Terima Bantuan Sepeda dari BAZNAS Lumajang
UPZ Lokakarya Candipuro Adakan Pelatihan Ternak Puyuh

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kab. Lumajang.
Lihat Daftar Rekening →